Banyak bicara yang dibolehkan
Kita boleh banyak bicara apabila pembicaraan yang kita lakukan merupakan bagian dari dzikir kepada Allah, yakni berbicara tentang kebenaran serta amar makruf nahi mungkar sebagaimana dituntunkan Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah Saw bersabda: “Semoga Allah memberikan keindahan kepada seseorang yang mendengar sesuatu dari kami, lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia dengar. Betapa banyak orang yang menyampaikan lebih paham dari yang mendengar”[HR Abu Daud dari Anas bin Malik]. Beliau bersabda pula: “Barangsiapa yang mengajarkan suatu ilmu, maka baginya pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkan sedikitpun”.[HR Ibnu Majah, dari Sahal bin Mu’adz bin Anas] “Orang yang menunjukkan kebaikan seperti orang yang mengerjakannya” [HR Al Bazzar, dishahihkan Ibnu Hibban]
Akibat Banyak Bicara
Tersebutlah seorang remaja menemui ajalnya pada perang Uhud. Ia ditemukan dalam keadaan di mana perutnya diikat dengan batu untuk menahan lapar. Ibunya mengusap debu di wajahnya seraya berkata: “Anakku, selamat bagimu karena kau telah mendapatkan surga”. Rasulullah bersabda: “Apa yang membuatmu yakin? Barangkali saja ia berbicara tentang hal yang tidak penting dan mencegah sesuatu yang tidak merugikannya” [HR Tirmidzi]
Rasulullah Saw bersabda: “Siapapun yang banyak bicara, maka dia akan banyak keliru. Orang yang banyak keliru, maka dosanya akan berlimpah. Orang yang dosanya berlimpah, akan masuk neraka” [HR Tahbrani]
Itulah barangkali kenapa orang yang banyak bicara hatinya menjadi keras. Setiap dosa yang dilakukan menyebabkan hati menjadi keras, semakin banyak dosa semakin keras pula hatinya.
Betapa banyak manusia yang senang melibatkan diri dalam urusan yang tidak berfaedah. Kita bisa mengevaluasi pembicaraan yang ada di radio, televisi, kumpulan orang, rapat, pasar, terminal, pelabuhan dan lain-lain. Cobalah simak, yang lebih banyak pembicaraan baik, sia-sia, atau pembicaraan buruk?
Ternyata pembicaraan sia-sia dan tidak baik lebih dominan. Apalagi dalam sinetron, infotainmen, berita, percakapan, dan lain sebagainya; lebih sedikit perkataan baik kita dengarkan. Kepada kita banyak diperlihatkan dan diperdengarkan kata-kata caci maki, perbincangan aib, ghibah, kecurigaan, pertentangan, penghinaan, dan pembicaraan buruk lainnya yang seharusnya kita hindari jauh-jauh.
Membiarkan diri menyukai acara-acara tersebut dan menyempatkan duduk berlama-lama menikmatinya membuat hati tidak peka terhadap kebenaran. Kita akan dibuat toleran terhadap perbincangan negatif dan sia-sia, dan menjadi semakin parah ketika ikut terlibat mengomentarinya. Diam tanpa komentarpun membawa kita terlibat dalam perbuatan sia-sia (al-laghwu), bahkan dapat menjadi mungkar karena meningkatkan rating acara. Semakin tinggi rating acara televisi atau radio, semakin lama bertahan, semakin banyak ditonton orang.
Menjaga Lisan
Rasulullah Saw mewanti-wanti kita semua untuk menjaga lisan, nikmat besar Allah yang dianugerahkan kepada manusia. Lisanlah alat komunikasi terpenting manusia, melahirkan apa yang ia pikirkan dan yakini. Kemampuan seseorang menjaga lisan untuk mengucapkan hanya yang baik dan benar merupakan prestasi luar biasa yang menjamin keseluruhan anggota tubuh dalam keadaan baik.
Dari Uqbah bin Amir ia berkata: “Saya bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda kepadaku: “Wahai Uqbah bin Amir, sambunglah (hubungan silaturahim) terhadap orang yang memutuskannya, berikanlah (sesuatu) kepada orang yang telah mengharamkannya untukmu dan maafkanlah orang yang telah menzhalimi kamu.” Uqbah berkata, “Kemudian saya mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau lalu bersabda kepadaku: “Wahai Uqbah, jagalah lisanmu, menangislah atas dosa-dosamu dan hendaklah rumahmu memberikan kelapangan untukmu.” [HR Ahmad]
Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah Saw bersabda: “Bila manusia berada di waktu pagi, seluruh anggota badan menutupi (kesalahan) lisan lalu berkata: Takutlah pada Allah tentang kami, kami bergantung padamu, bila kau lurus kami lurus dan bila kamu bengkok kami bengkok.” [HR Tirmidzi]
Dari Sahl bin Sa’d dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Barangsiapa dapat menjamin bagiku sesuatu yang berada di antara jenggotnya (mulut) dan di antara kedua kakinya (kemaluan), maka aku akan menjamin baginya surga.”[HR Bukhari]
Cobalah evaluasi, dalam 24 jam terakhir perbuatan dan pembicaraan apa saja yang kita lakukan yang tidak berguna? Apakah ada obrolan ngalor ngidul atau ke sana ke mari yang tidak jelas juntrungnya sekedar berbicara beria-ia berbukan-bukan? Yakinkah bicara kita baik-baik?
Marilah kita yakinkan diri untuk berkata hanya yang baik!
Penulis : Agus Sukaca
Sumber Artikel: http://tuntunanislam.id/
Halaman Sebelumnya : Adab berbicara seperlunya (1)
