Kamis, 01 Januari 2026

Nabi Suka Bergurau (1)

Agama Islam memberikan rambu-rambu berupa adab tentang apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa. Adab ini juga sampai menyangkut soal bergurau, melucu, atau membuat lelucon yang dalam Bahasa Arab disebut al-Mizaah (المزاح) dari kata kerja mazaha (مزح).

 

Dilarang Berbohong ketika Bergurau

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الدِّمَشْقِيُّ أَبُو الْجَمَاهِرِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو كَعْبٍ أَيُّوبُ بْنُ مُحَمَّدٍ السَّعْدِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ حَبِيبٍ الْمُحَارِبِيُّ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman Ad Dimasyqi Abu Al Jamahir,…, dari Abu Umamah ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bersifat gurauan, Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik.” (HR Abu Dawud; 4167. An-Nawawi: Sahih Al-Albani: Hasan)

حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad bin Musarhad, …, dari Bapaknya Bahz bin Hakim, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW  bersabda: “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah ia, celakalah ia.”  (HR Abu Dawud; 4338 juga Tirmidzi 2237.  Al-Albani: Hasan)

 

Boleh Bergurau untuk Mengakrabkan dan Menyenangkan Hati

Hadis-hadis di atas tidak berarti bahwa bergurau itu dilarang karena Nabi Muhammad SAW juga terkadang bergurau (tetapi bukan yang urusan agama). Contohnya adalah:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ كَانَ اسْمُهُ زَاهِرًا كَانَ يُهْدِي لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْهَدِيَّةَ مِنْ الْبَادِيَةِ فَيُجَهِّزُهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ زَاهِرًا بَادِيَتُنَا وَنَحْنُ حَاضِرُوهُ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّهُ وَكَانَ رَجُلًا دَمِيمًا فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا وَهُوَ يَبِيعُ مَتَاعَهُ فَاحْتَضَنَهُ مِنْ خَلْفِهِ وَهُوَ لَا يُبْصِرُهُ فَقَالَ الرَّجُلُ أَرْسِلْنِي مَنْ هَذَا فَالْتَفَتَ فَعَرَفَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ لَا يَأْلُو مَا أَلْصَقَ ظَهْرَهُ بِصَدْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ عَرَفَهُ وَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يَشْتَرِي الْعَبْدَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِذًا وَاللَّهِ تَجِدُنِي كَاسِدًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ عِنْدَ اللَّهِ لَسْتَ بِكَاسِدٍ أَوْ قَالَ لَكِنْ عِنْدَ اللَّهِ أَنْتَ غَالٍ

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq, …, dari Anas; Ada seorang laki-laki desa bernama Zahir, ia menghadiahi Nabi SAW sebuah hadiah dari desa. Nabi sering berbekal dengannya jika mengadakan sebuah perjalanan. Sering-sering Nabi mengatakan: ” Zahir orang desa sedangkan kita orang kota”. Nabi sangat mencintai Zahir, sekalipun buruk wajahnya. Suatu hari ketika dia sedang berjualan, Nabi mendatanginya seraya mendekapnya dari belakang tanpa sepengetahuannya. Zahir berteriak, tolong beritahu saya siapa ini?, lalu ia menoleh dan melihatnya, ternyata beliau adalah baginda Rasulullah SAW, maka ia tidak melepas punggungnya yang melekat dengan dada Nabi. Begitu Zahir tahu si pendekapnya, Nabi mengatakan, “Siapa yang hendak membeli budak?”, maka Zahir berkata, wahai Rasulullah, demi Allah kalau begitu Tuan mendapati saya seperti orang murahan (rendah). Nabi lantas berujar, “Akan tetapi disisi Allah kamu bukanlah orang yang murah”, atau beliau Rasulullah bersabda, “Akan tetapi di sisi Allah kamu sangatlah mahal.” (HR Ahmad  12187 Al-Albani: Shahih dalam Kitabnya مختصر الشمائل – (ج 1 / ص 127))

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ قَالَ أَحْسِبُهُ فَطِيمًا وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ نُغَرٌ كَانَ يَلْعَبُ بِهِ فَرُبَّمَا حَضَرَ الصَّلَاةَ وَهُوَ فِي بَيْتِنَا فَيَأْمُرُ بِالْبِسَاطِ الَّذِي تَحْتَهُ فَيُكْنَسُ وَيُنْضَحُ ثُمَّ يَقُومُ وَنَقُومُ خَلْفَهُ فَيُصَلِّي بِنَا

Telah menceritakan kepada kami Musaddad…, dari Anas dia berkata; “Nabi SAW adalah sosok yang paling mulia akhlaknya, aku memiliki saudara yang bernama Abu ‘Umair -Perawi mengatakan; aku mengira Anas juga berkata; ‘Kala itu ia habis disapih.”- Dan apabila beliau datang, maka beliau akan bertanya: ‘Hai Abu Umair, bagaimana kabar si nughair (burung pipitnya). Abu Umair memang senang bermain dengannya, dan ketika waktu shalat telah tiba, sedangkan beliau masih berada di rumah kami, maka beliau meminta dihamparkan tikar dengan menyapu bawahnya dan memercikinya, lalu kami berdiri di belakang beliau, dan beliau pun shalat mengimami kami.” (HR Bukhari; 5735)

Di dalam teks Arab dan juga terjemahannya ada dua kata yang kebetulan mirip dan juga mempunyai arti yang secara abstrak sama, yaitu Abu ‘Umair dan an-Nughair. Abu ‘Umair adalah sang bapak yang sudah dewasa dan tentunya berbadan lumayan besar dan anaknya yang baru disapih yang tentunya badannya masih kecil, maka dipanggil oleh Rasulullah dengan an-Nughair, si burung kecil, semacam burung pipit. Inilah perbandingan katanya ‘Umair dan Nughair. Selain berirama maka dua kata itu juga bermakna yang tepat untuk besar badan antara bapak dan anak yang masih kecil sekali.

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ شَرِيكٍ عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ يَا ذَا الْأُذُنَيْنِ قَالَ مَحْمُودٌ قَالَ أَبُو أُسَامَةَ يَعْنِي مَازَحَهُ وَهَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, …, dari Anas bin Malik bahwa Nabi SAW bersabda kepadanya: “Wahai orang yang memiliki dua telinga.” Mahmud berkata; Abu Usamah berkata, “Yakni, beliau sedang bergurau dengannya.” (Hadits ini adalah hadits shahih gharib. HR Tirmidzi  1915 Al-Albani: Sahih)

Ini adalah pemberian sebutan gurauan Nabi Muhammad SAW kepada Anas bin Malik sebagai orang yang punya dua telinga. Artinya adalah, bahwa Sahabat Anas itu adalah seorang pendengar yang baik dan tidak mudah mudah lupa. Panggilan wahai yang mempunyai dua telinga itu adalah pujian Rasulullah kepada dia. Lihat تحفة الأحوذي  المباركفوري – ج 6 / ص 108.

حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ أَخْبَرَنَا خَالِدٌ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ احْمِلْنِي قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّا حَامِلُوكَ عَلَى وَلَدِ نَاقَةٍ قَالَ وَمَا أَصْنَعُ بِوَلَدِ النَّاقَةِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَلْ تَلِدُ الْإِبِلَ إِلَّا النُّوقُ

Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Baqiyyah berkata, …, dari Anas berkata, Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, berilah aku unta yang aku kendarai (secara ringkas artinya adalah: Gendonglah aku).” Nabi SAW bersabda: “Kami akan memberimu anak unta.” Laki-laki itu bertanya, “Apa yang bisa aku lakukan dengan anak unta?” Nabi SAW menjawab: “Bukankah unta dewasa juga dilahirkan oleh seekor unta yang pernah kecil?” (HR Abu Dawud  4346 Al-Albani: Sahih)

 

ALLAH TERTAWA

Allah Subhaanahu Wa Ta’aala juga tertawa.

Kita semua mengetahui bahwa manusia tertawa, tetapi ketika Allah ta’aala tertawa maka akan timbul pertanyaan dalam keadaan apa dan apa arti tertawanya Allah. Beberapa hadits berikut menjelaskan bahwa bahwa ketika Allah ridha atau merasa sangat senang dengan amalan atau apa yang dilakukan oleh manusia, maka saat itulah Allah tertawa. Tidak hanya itu, tetapi orang yang beramal tersebut akan dimasukkannya ke dalam surga.

 

Penulis                        : M. Yusron Asrofie

Sumber Artikel           : tuntunanislam.id

 

Halaman Selanjutnya  : Nabi Suka Bergurau (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *