Jum'at, 02 Januari 2026

Perintah Orang Tapi Tidak Melakukan (2)

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى قَوْمٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ قُلْتُ مَا هَؤُلَاءِ قَالَ هَؤُلَاءِ خُطَبَاءُ أُمَّتِكَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا كَانُوا يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid bin Jud’an dari Anas berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Ketika malam isra’, aku melewati suatu kaum yang lidahnya dipotong dengan gunting dari api. Aku (Rasulullah SAW) bertanya, ‘kenapa mereka dihukum seperti itu?’ (Malaikat) berkata; ‘mereka adalah para ahli khutbah dari umatmu di dunia, mereka memerintahkan kebaikan pada orang-orang namun melupakan diri mereka sendiri padahal mereka membaca al-Qur’an. Mengapakah mereka tidak menggunakan akal sehatnya?’ [HR. Ahmad, No. 12391]. Al-Albani: Hadits Hasan

 

(بِالْبِرِّ) bil-birri: (mengerjakan) kebajikan. Al-birr adalah suatu kebajikan tingkat tinggi yang hampir menyamai derajat orang-orang muttaquun. Di dalam aurat al-Baqarah (2): 177 dijelaskan bahwa al-birr adalah sebagai berikut:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ  [البقرة: 177]

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, Nabi-Nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan  (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa (muttaquun)” [QS. al-Baqarah: 177].

 

Kalau di dalam ayat di atas itu al-birr disamakan dengan al-muttaquun, tetapi di lain tempat, seperti di surat ali-‘Imran (3): 133-135 ada tambahan lagi sifat-sifat dari orang-orang muttaquun.

(وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ) wa tansauna anfusakum: sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri. Dalam bahasa Arab, kata “lupa” tersebut mengandung arti “membiarkan” atau “lalai” tidak mengerjakan apa yang mereka perintahkan.

(وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ) wa antum tatluun al-kitaab: padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat). Kata tatluuna (tilaawah) berarti membaca dan juga mengikuti. Kata ini bisa juga artinya meniru, menjadikan yang dibaca sebagai model atau contoh atas apa yang harus dilakukan, atau ringkasnya menjadikannya sebagai petunjuk.

Kata tilaawah dikhususkan untuk arti mengikuti petunjuk kitab-kitab Allah yang diturunkan. Kata ini terkadang dipakai untuk arti sekedar membaca, dan terkadang dipakai untuk menjadikannya sebagai aturan atau tuntunan atas apa yang ada di dalam kitab-kitab itu yang berupa perintah dan larangan, pemberian harapan atau ancaman.

Kata tilaawah lebih khusus daripada qira’ah. Setiap tilaawah adalah qira’ah, namun tidak semua kata qira’ah berarti tilaawah. Kita tidak bisa mengatakan saya bertilawah dan kita mengabaikan isi bacaannya atau bacaan itu tidak berkesan dan berakibat amal sesuai dengan yang kita baca.

(أَفَلَا تَعْقِلُونَ) afalaa ta’qiluun: Apakah kamu tidak faham? Apakah kamu tidak menggunakan akal? (العقل) Al-‘aqlu (akal) adalah kemampuan batin untuk membedakan mana yang benar dan yang salah, yang baik dan yang tidak baik atau yang menuruti hawa nafsu, mana yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat [Lihat. Aisar al-Tafaasiir]. Sementara, Imam al-Raaghib menyebut al-‘Aql adalah kekuatan yang siap untuk menerima ilmu, yaitu ilmu yang memberi manfaat kepada manusia dengan kekuatan akal tadi.

Di dalam kamus Lisaan al-‘Arabal-‘aqlu (akal) adalah rasio dan kecerdasan. Lawan katanya adalah kebodohan. Orang disebut al-‘Aqil adalah orang yang menjaga dirinya dan menjauhkannya dari hawa nafsu. Akal adalah penentuan secara hati-hati di dalam segala urusan. Akal adalah qalbu dan qalbu adalah akal. Orang disebut berakal karena pemiliknya mengerti supaya tidak terjerumus dalam kehancuran atau dia menjaganya (dari kehancuran). Akal adalah pembeda antara manusia (insan) dan seluruh binatang atau makhluk hidup lainnya. Selanjutnya, ’aqul dan ’aqala berarti faham atau memahami.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menyatakan bahwa akal itu memang dianugerahkan agar orang berpikir untuk kebaikan yang bermanfaat untuk dirinya dan menyadari apa yang tidak bermanfaat sehingga berusaha menjauhinya. Orang berakal adalah orang yang mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan orang yang tidak mengerjakan apa yang dilarang-Nya. Oleh karena itu, siapa yang memerintahkan orang lain berbuat kebajikan, tetapi dia sendiri tidak mengerjakannya, atau melarang orang lain berbuat yang tidak pantas atau perbuatan jelek lainnya padahal dia sendiri melakukannya, maka orang itu bisa dibilang tidak punya akal (ora duwe uteg: Jawa) atau berbuat kebodohan.

Ayat ini meskipun ditujukan kepada Bani Isra’il, tetapi juga berlaku untuk umum (semua manusia):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3) – الصف: 2-3

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? (2); Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (3)” [QS. ash-Shaff: 2-3].

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka pelajaran yang dapat kita petik dari QS. al-Baqarah ayat 44 adalah bahwa ayat ini menunjukkan penilaian buruk terhadap orang yang memerintahkan orang lain untuk berbuat baik sementara dirinya sendiri tidak melakukannya. Wallahu a’lam.

 

Penulis             : M. Yusron Asrofie

Sumber            : http://tuntunanislam.id/

 

Halaman Sebelumnya: Perintah Orang Tapi Tidak Melakukan (1).......

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *