Kamis, 01 Januari 2026

Sikap Orang-Orang Munafik (1)

Tafsir Surat al-Baqarah ayat 8-20

“Karena orang munafik itu tidak sehat keyakinannya, maka akhirnya pendiriannya tidak menentu, terombang-ambing ke sana dan ke mari. Perumpamaan orang munafik adalah seperti domba yang bingung antara dua kambing, kadang-kadang tersesat ke sini dan kadang-kadang tersesat ke sana (Shahih Muslim). Sekalipun demikian, mereka tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang dan tidak adil, sebab mereka masih dapat diharapkan kembali kepada kebenaran, insya Allah, dan dengan tegas Rasulullah melarang berbuat sewenang-wenang kepada mereka”.

 

Terjemahannya:

Diantara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman (8).

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar (9).

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta (10).

Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (11)

Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar (12).

Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu (13).

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”, tetapi bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (14)

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka (15).

Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk (16).

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat (17).

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar) (18).

Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati, dan Allah meliputi orang-orang yang kafir (19).

Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu (20). (Qs. al-Baqarah: 8-20)

 

Tafsir Mufradat

An-Nas: bentuk ism jama’, seperti “qaum”, dan bentuk mufrad (tunggal)-nya: insan, yang diambil dari lafal lain. Arti an-Nas: manusia. (Ibnu Manzur, di bawah kata anasa). Dalam al-Qur’an, kata tersebut diulang sebanyak 241 kali.

Al-Yaum al-akhir: hari akhir; hari akhir dimulai dari saat dikumpulkannya manusia di makhsyar (tempat dikumpulkannya manusia sesudah dibangkitkan) hingga waktu yang tidak terhingga, atau hingga ahli surga masuk dalam surga dan ahli neraka masuk ke dalam neraka. (al-Maraghi, 1: 49). Dalam al-Qur’an, kata tersebut diulang sebanyak 141 kali, 58 diantaranya dihubungkan dengan kata “ad-Dunya” (dunia), untuk memberikan pengertian bahwa masalah ukhrawi (keakhiratan) tidak dapat dipisahkan dengan masalah duniawi (keduniaan).

Al-Qulub: bentuk jama’ dari “al-Qalb” (hati), pada ayat tersebut di atas, al-Qalb berarti akal.

Asy-Syaitanal-Ba’id (yang jauh), disebut syaitan karena jauh dari kebenaran, jauh dari rahmat Allah. Kata tersebut berasal dari kata “syatana-yasytunu-syatnan” (jauh; menyimpang).

Pada ayat tersebut (15), asy-syaitan berarti penyebar fitnah, pembuat kerusakan, pembela kebathilan yang menghalang-halangi agar tidak mengikuti kebenaran, dengan cara menghembuskan keragu-raguan dan menanamkan permusuhan serta pertikaian dalam masyarakat. (Rasyid Rida, I: 163). Dalam al-Qur’an, kata tersebut diulang sebanyak 88 kali. 18 diantaranya dalam bentuk jama’.

 

Tafsir ayat

Menurut Ibnu ‘Abbas, ayat-ayat tentang orang-orang munafik diturunkan berkenaan dengan orang-orang munafik dari suku Khazraj dan suku Aus. (Ibnu Kasir, tafsir al-Qur’an al-‘Azim, I: 83). Orang yang paling terkenal dikalangan orang-orang munafik ialah ‘Abdullah bin Ubay bin Salul. (Al-Qasimiy, 1978, II:44).

Pada ayat sebelumnya (2-5), Allah telah menjelaskan sifat-sifat golongan mukminin, orang-orang yang bertaqwa kepada Allah, yang mengikhlaskan (memurnikan) agamanya hanya untuk mencari keridaan Allah SWT, yang batinnya sama dengan perbuatan dan perkataannya. Kemudian pada ayat berikutnya, yaitu ayat 6-7, Allah menjelaskan sifat-sifat para orang kafir, yang menentang dan mengingkari ketauhidan Allah, baik lahir maupun batinnya. Kemudian pada ayat 8-20 Allah menjelaskan tingkah laku dan sifat-sifat golongan munafiqin, yaitu orang-orang yang menampakkan keimanan dan kebaikannya, tetapi merahasiakan kejahatannya. Menurut Ibnu Juraij, orang munafik ialah orang yang perkataannya tidak sama dengan perbuatannya, batinnya tidak sama dengan lahirnya. (Ibnu Katsir, 1966, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, I:83).

Sifat-sifat orang munafiq sebagian besar diterangkan dalam surat-surat madaniyah (surat yang diturunkan sesudah Nabi hijrah ke Madinah), sebab di Makkah, sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah, belum terdapat nifaq (kemunafikan), bahkan sebaliknya, sebagian orang menampakkan kekafirannya, dalam hatinya ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, mengatakan bahwa munculnya orang-orang munafik sesudah perang Badar Kubra, setelah orang-orang dari suku Khazraj dan suku Aus masuk Islam, yang kemudian terkenal dengan “golongan Anshar”. (Ibnu Katsir, 1966, I: 84).

 

Penulis             : Prof. Drs. H. Saad Abdul Wahid

Sumber            : http://tuntunanislam.id/

 

Halaman Selanjuntya: Sikap Orang-Orang Munafik (2)........

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *